Layang-Layang dari Langit Ayah
untuk Ayah, yang masih menjaga Adek dari langit
Saat Ayah pergi dulu, rumah penuh oleh orang-orang yang datang melayat. Tangis terdengar di banyak sudut rumah, wajah-wajah kehilangan berdiri di sekeliling kami. Semua orang menangis untuk Ayah. Tapi anehnya, di tengah semua itu Adek justru tidak menangis.
Adek hanya berdiri diam. Menatap semuanya seperti orang yang belum benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Bukan karena Adek tidak sedih, Ayah. Bukan karena Adek tidak mencintai Ayah. Mungkin saat itu hati Adek hanya terlalu kaget untuk memahami arti kehilangan.
Tapi waktu berjalan, Ayah… dan ternyata tangis tidak selalu datang di hari kepergian. Justru setelah semuanya kembali sepi, setelah rumah kembali sunyi, setelah orang-orang kembali ke hidup mereka masing-masing—barulah rindu itu datang perlahan. Air mata yang dulu tidak jatuh di depan banyak orang… justru jatuh diam-diam di hari-hari setelahnya.
Ayah, ada satu malam yang sampai sekarang masih Adek ingat dengan sangat jelas.
Malam yang panjang dan menakutkan.
Tiba-tiba tubuh Adek mengeluarkan darah begitu deras, seperti aliran yang tak bisa dihentikan.
Adek tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada tubuh Adek sendiri.
Yang Adek tahu hanya satu—Adek sangat ketakutan.
Malam itu terasa sangat sunyi.
Adek menangis sendirian, bingung dan panik.
Rasanya seperti dunia tiba-tiba menjadi sangat jauh,
dan Adek tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa.
Sampai akhirnya tubuh Adek kelelahan oleh tangis dan ketakutan.
Adek tertidur… dengan hati yang masih gemetar.
Dan di saat itulah Ayah datang.
Ayah berdiri dengan wajah yang begitu Adek kenal—tenang, sabar, seperti dulu ketika Adek masih kecil dan sering takut pada banyak hal. Ayah menatap Adek dengan lembut, lalu berkata pelan,
“Sabar, Nak.”
Hanya dua kata itu.
Tapi malam itu rasanya seperti pelukan yang menenangkan seluruh ketakutan Adek.
Seolah Ayah benar-benar datang hanya untuk memastikan bahwa Adek tidak sendirian.
Beberapa waktu setelah itu, Ayah datang lagi dalam mimpi Adek. Kali ini Ayah tidak banyak bicara. Hanya ada sebuah lagu yang terdengar samar di mimpi itu. Yang Adek ingat hanya satu kalimat dari lagu itu—
layang-layang, layang-layang yang kusayang
Hancur lebur berantakan karena datangnya hujan
Saat terbangun, kalimat itu masih tinggal di kepala Adek. Rasanya aneh, karena sebelumnya Adek bahkan tidak pernah mendengar lagu tentang itu. Tapi rasa penasaran membuat Adek mencarinya.
Dan di situlah Adek baru tahu…
ternyata lagu itu adalah lagu dari Koes Plus.
Band yang sejak dulu sangat Ayah sukai.
Adek bahkan belum pernah mendengarnya sebelumnya. Tapi entah kenapa justru lagu itu yang datang di mimpi Adek.
Saat Adek membaca maknanya, hati Adek terasa seperti disentuh pelan oleh sesuatu yang sangat dalam.
Seperti layang-layang yang terbang tinggi di langit luas.
Dari bawah ia terlihat bebas, terlihat kuat menantang angin sendirian.
Padahal sebenarnya ia tidak pernah benar-benar sendiri.
Selalu ada benang yang menahannya agar tidak hilang arah.
Saat memahami itu, Adek langsung teringat Ayah.
Mungkin manusia juga seperti layang-layang itu. Kita bisa berjalan jauh, terlihat kuat, bahkan merasa mampu menghadapi dunia sendirian. Tapi sebenarnya kita tetap terikat pada satu benang yang tidak terlihat—benang keluarga, benang rumah, dan orang-orang yang mencintai kita sejak awal.
Hari ini Adek datang lagi ke rumah baru Ayah. Orang-orang menyebutnya makam, tapi bagi Adek ini tetap rumah Ayah. Adek datang tidak sendiri. Adek membawa cucu kesayangan Ayah.
Mungkin dia belum mengerti tentang rindu.
Tapi Adek ingin dia tetap dekat dengan Ayah—lewat doa, lewat cerita, dan lewat kenangan yang akan Adek jaga sepanjang hidup.
Maafkan Adek, Ayah… kalau sampai hari ini Adek belum bisa menjadi sesabar Ayah. Adek belum bisa selegowo Ayah dalam menghadapi hidup. Kadang Adek masih marah, kadang Adek masih lelah, kadang Adek masih menangis ketika rindu datang tanpa permisi.
Sekarang Adek mulai mengerti, Ayah.
Bahkan setelah Ayah pergi, nasihat Ayah masih pulang kepada Adek—
lewat mimpi yang datang di malam sunyi,
lewat lagu lama dari Koes Plus yang dulu Ayah sukai,
dan lewat rindu yang sampai hari ini tidak pernah benar-benar selesai.
Jika suatu hari Adek kembali merasa sendirian,
Adek tahu harus ke mana mencari Ayah.
Di langit tempat layang-layang terbang tinggi,
di doa-doa pelan yang Adek kirimkan setiap malam.
Dan mungkin benar…
Ayah tidak benar-benar pergi.
Ayah hanya pindah tempat,
agar bisa menjaga Adek dari langit yang lebih tinggi.
Karena ternyata, kehilangan Ayah
bukan berarti Adek hidup tanpa Ayah.
Ayah hanya… berubah cara menjaganya. 🤍
